Logo

“TATA TERTIB, SAHABAT ANAK SEKOLAH”

images

 

Dilarang membawa handphone di area sekolah” kalimat yang sering kita dengarkan saat upacara atau apel sekolah sebagai salah satu bagian dari tata tertib yang diterapkan. Yah, tata tertib. Dua buah kosakata yang memiliki makna “sedikit menyeramkan”  terkhusus bagi anak sekolah. Bagaimana tidak? Seluruh peraturan yang biasanya diterapkan dalam suatu lingkungan pendidikan semisal sekolah merupakan kebiasaan-kebiasaan yang cenderung kepada kebebasan melakukan sesuatu hal yang mereka nilai sebagai sebuah kemajuan modernisasi. Contohnya saja, memakai pakaian sekolah yang agak ketat bagi siswi, potongan rambut modis siswa ala selebrita, sampai kecanduan game online yang membuat mereka tidak bisa lepas dari penggunaan telepon genggam alias gadget. Ini masih sedikit contoh dari banyaknya kebiasaan remaja saat ini yang menjadi tolak ukur dari pencitraan mereka sebagai remaja milenia. Padahal jika ditelusuri, hampir semua kebiasaan-kebiasaan dan gaya hidup seperti itu malah mengantarkan mereka menjadi sosok yang jauh dari jiwa sosial, bersikap masa bodoh dan diperbudak teknologi.  Nah, pembahasan ringan kita untuk artikel ini adalah tentang sejauh mana peranan tata tertib sekolah dalam mengendalikan kenakalan remaja. check it out J

Menurut Depdikbud (1989) “pengertian tata tertib sekolah adalah aturan atau peraturan yang baik dan merupakan hasil pelaksanaan yang konsisten (tatap azas) dari peraturan yang ada”. Sedangkan Menurut Mulyono (2000) “ tata tertib adalah kumpulan aturan–aturan yang dibuat secara tertulis dan mengikat anggota masyarakat”. Aturan–aturan ketertiban dalam keteraturan terhadap tata tertib sekolah, meliputi kewajiban, keharusan dan larangan–larangan. Secara umum tata tertib sekolah dapat diartikan sebagai ikatan atau aturan yang harus dipatuhi setiap warga sekolah tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Pelaksanaan tata tertib sekolah akan dapat berjalan dengan baik jika Guru, aparat sekolah dan siswa telah saling mendukung terhadap tata tertib sekolah itu sendiri, kurangnya dukungan dari siswa akan mengakibatkan kurang berartinya tata tertib sekolah yang diterapkan di sekolah. 

Jika kita menengok pengertian di atas, maka sebenarnya kehadiran tata tertib di sekolah merupakan acuan yang mengikat namun bersifat perbaikan terhadap tindak dan tingkah laku bagi anggotanya. Dengan kata lain, tata tertib dihadirkan untuk membantu pembentukan karakter remaja.  Penguatan mental dan spiritual pun akan lahir dari penerapan tata tertib yang berkesinambungan terhadap lingkungan sekolah. Nah, hal  tersebut yang kurang disadari oleh remaja saat ini. Pemikiran instan mereka lebih cenderung mengantarkan pada pola pikir yang bebas dan tidak terikat. Maka penolakan akan penerapan aturan-aturan yang dianggap terlalu mengatur tentu akan ditolak mentah-mentah.

Bahkan tidak jarang keberadaan tata tertib sekolah dan sanksi yang ada malah menyulut emosi sehingga ada oknum siswa yang tega melakukan tindak kekerasan kepada gurunya sendiri. Padahal sanski yang diberikan hanya sebata teguran kecil untuk membuat efek jera namun sebaliknya dianggap keras oleh beberapa siswa.

Seharusnya, penerapan aturan seperti tata tertib sekolah bisa menjadi wadah menyenangkan bagi siswa. Misalnya, mendorong keinginan siswa dalam berlomba-lomba menjaga kebersihan lingkungan, memupuk kebersamaan dalam menciptakan suasan kondusif di lingkungan sekolah, menanamkan kedisplinan sebagai hal utama terhadap keberhasilan proses belajar mengajar, menjadikan teknologi sebagai panduan pendamping yang tepat dalam memenuhi kebutuhan psikologis. Jika hal ini mampu disadari oleh generasi muda, maka tingkat kedisplinan dan kepeduliaan akan semakin meningkat.

Selain hal tersebut di atas, tentu saja Pembudayaan disiplin tidak cukup hanya dengan melalui peraturan tata tertib yang diumumkan secara lisan atau tertulis saja. Keteladanan dorongan serta bimbingan dalam bentuk – bentuk konkrit sangat diperlukan bahkan keikutsertaan warga sekolah secara langsung akan lebih tepat dan berhasil. Dengan begitu terjalin keselarasan dan kerjasama yang baik. Sebab pada dasarnya, manusia terbentuk dari lingkungan yang ada, jika lingkungannya mampu memberi pengaruh positif dan contoh yang baik, lambat laun tentu akan mempengaruhi kebiasaaan dari para siswa.

Peran keluarga dan masyarakat, kerja sama, kesepahaman, serta kesamaan pengertian tentang perlu tegaknya disiplin dan tata tertib pada siswa, banyak ditentukan oleh dukungan serta bantuan orang tua dan masyarakat. Komitmen yang penting harus dibangun antara pihak sekolah dan orangtua, sebab siswa hanya berada di area sekolah kurang lebih 10 jam, selebihnya adalah aktivitas mereka di rumah. Dengan demikian, tentu sangat dibutuhkan adanya saling support antara pihak sekolah dan keluarga. Dua unsur utama ini menjadi pondasi utama dalam pembentukan karakter yang ada.

 

Reference :

http://annemeri15.blogspot.co.id/2015/11/tata-tertib-sekolah-pengertian-tata.html

http://kharismati.blogspot.co.id/2012/03/peranan-tata-tertib-sekolah.html



Tinggalkan Komentar